Wednesday, January 6, 2010

pahlawan tak bertuan

Dijarak 200 meter ku lihat samara sesosok tubuh mungil yang
menghinggapi setiap kuda bermesin yang sedang menunggu datangnya warna hijau,
Panas terik tak mengacaukan niat yang terselip di sela-sela harapannya untuk bisa mebeli sebutir karbohidrat untuk memberi makan cacing yang menggeliat dan berteriak-teriak tadi sejak pagi di dalam tubuhnya,
Nyanyian tak merdu ia lantunkan bersama tetesan keringat didahinya yang hampir kering terdesak oleh dehidrasi,
Tanpa ada cita-cita yang ia gantungkan di awing-awang,
Yang dia punya hanyalah suara dan kaleng kecil tuk di isi segrincing belas kasihan dari pahlawannya yang mengeluhkan kehadirannya.